NAVIGATION

TRENDING POSTS

1 Highlight | Hotel | Millenium Hotel Sirih Jakarta

Sambut Tahun Baru 2017 Bersama Millennium Hotel Sirih Jakarta

2 Gaya Hidup | Tekno

Parenting di Era Digital

3 Food &Beverage | Highlight | Products

Mulai 1 April 2017, Ichitan Bagikan Hadiah Rp300 Juta

Maria Nindita: Inilah Keunggulan Community Enterprise

Maria Nindita: Inilah Keunggulan Community Enterprise

Social Enterprise dan Community Enterprise memiliki perbedaan. Manakah yang makin dibutuhkan di Indonesia?

Marketplus.co.id – Social enterprise adalah suatu bentuk bisnis yang didirikan oleh satu/beberapa social entrepreneur (wirausaha sosial) yang berusaha menyelesaikan persoalan sosial dengan mengubahnya menjadi kegiatan/kesempatan bisnis, sehingga tercipta solusi yang berkelanjutan.

Jika mengikuti versi Inggris, maka social enterprise pertama dimulai di Inggris dimana 28 orang mendirikan The Rochdale Society of Equitable Pioneers tahun 1844, yakni toko kelontong/sembako dengan modal £28, yang kemudian berkembang menjadi koperasi konsumsi dan menciptakan prinsip terkenal di dunia, the Rochdale Principles, yang dipergunakan oleh seluruh Koperasi di dunia. Sementara di Eropa, tepatnya di Spanyol contohnya adalah Futbol Club Barcelona (FCB), didirikan sejak 1899, yang merupakan klub yang dimiliki dan dikelola oleh para fans dari Barcelona yang menjual merchandise, tiket, dll.

Di Inggris kemudian Social Enterprise dikenal sebagai Community Enterprise. Jika social enterprise adalah lembaga wirausaha sosial yang dimiliki oleh individu, maka community enterprise adalah lembaga wirausaha yang dimiliki oleh komunitas tertentu, yang didirikan dengan tujuan menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi, sehingga kepemilikannya pada anggota dan dikelola oleh anggota, jadi mempunyai prinsip seperti koperasi.

Banyak contoh wirausaha sosial yang berhasil di Indonesia melalui pembentukan community enterprise, misalnya: Silverius Oscar Unggul, dkk. yang mendirikan Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL) di Konawe Selatan, Sulawesi, yang menyelesaikan masalah pembalakan liar dengan membantu petani memperoleh sertifikasi FSC (Forest Stewardship Council) untuk manajemen penanaman kayu jati sehingga dapat diekspor ke Amerika dan Belanda.

Mohammad Zaini dikenal dengan  “Komunitas Hong” untuk menyelesaikan persoalan kenakalan anak-anak di daerah Dago Pakar, Bandung dan selanjutnya Yuri Pratama mendirikan Urchindonesia yang mengolah bulu babi (landak laut) yang dianggap hama, menjadi makanan dan food suplemen sehingga membantu meningkatkan kesejahteraan para nelayan di pulau Tidung, pulau Peri, dan pulau Panggang di daerah Kepulauan Seribu.

Contoh social enterprise di Indonesia adalah Yayasan,  misalnya Yayasan Cinta Anak Bangsa; Yayasan Kehati; Yayasan Bina Swadaya, dll.

Keunggulan Community Enterprise dibanding Social Enterprise adalah:

  1. Kepemilikan berada pada anggota, dimana keuntungan sebagian dibagikan sebagai deviden untuk anggota, sehingga menciptakan kesejahteraan banyak orang
  2. Meningkatkan dignity (martabat) bagi banyak orang, karena anggota tidak hanya menjadi pekerja tetapi juga menjadi pemilik.
  3. Pengelolaan dilakukan anggota, sehingga meningkatkan tata-kelola, seperti transparansi dan akuntabilitas.
  4. Adanya sistem demokrasi/partisipasi anggota dalam pengambilan keputusan.
  5. Meningkatkan kerukunan dan gotong-royong komunitas/anggota

Di Indonesia, dengan karakteristik banyak penduduk dan tingkat kemiskinan yang tinggi, maka bentuk community enterprise lebih ideal, karena dapat membantu mencapai keadilan sosial dan memberi solusi berkelanjutan mengentaskan kemiskinan.

 

Maria Nindita Radyati, Ph.D
‎Executive Director at Center for Entrepreneurship, Change, and Third Sector
Founder MM CSR Universitas Trisakti
@maria_nindita
www.mmcsrusakti.com

Top