NAVIGATION

Budaya Pekalongan

Budaya Pekalongan

Ragam kekayaan wisata Islam di Kabupaten Pekalongan.

Marketplus.co.id – Wisata Budaya di Kabupaten Pekalongan didominasi oleh pengaruh budaya Islam. Oleh sebab itu, banyak masyarakat yang berwisata ke makam-makam penyebar agama Islam di seperti Makam Mbah Gendhon Desa Kauman Kesesi, Makam Wali Agung Rogoselo Doro, Makam Syekh Siti Jenar di Desa Lemahabang Doro, Makam Hoo Tjin Siong Doro dan lain sebagainya.

  1. Khoul. Merupakan upacara keagamaan yang diselenggarakan setiap tanggal 14 Sya’ban setahun sekali untuk mengenang jasa-jasa Habib Akhmad bin Abdullah bin Tholib Al Athas, yang semasa hidupnya merinis penyebaran agama Islam di Jawa.
  2. Lopisan. Lopisan yang juga biasa disebut Syawalan atau Krapyakan, merupakan acara adat bagi umat Islam yang berada di Pekalongan dan sekitarnya, dimana akan diadakan prosesi pemotongan kue lapis raksasa berdiameter 150 cm, berat 185 kg dan tinggi 110 cm, dan diselenggarakan satu minggu setelah Hari Raya Idul Fitri. Tradisi Krapyakan ini telah rutin diselenggarakan oeh masyarakat kota Pekalongan sejak 130 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1855 oleh KH. Abdullah Sirodj.
  3. Simtudduror . Biasa disebut “Duroran”, merupakan kesenian tradisional yang bernafaskan Islam dengan menggunakan Rebana dan Tanjidor sebagai pengiringnya. Kesenian ini beranggotakan 15-20 orang dan melantunkan puji-pujian atau shalawatan sebagai ungkapan rasa syukur dan permohonan keselamatan dunia dan akhirat. Kesenian ini dapat diadakan pada saat pembukaan hajatan atau selamatan yang diselenggarakan oleh para warga kota Pekalongan.
  4. Sintren. Tarian bernuansa mistis ini bersumber dari kisah cinta Sulasih dan Sulandono. Tersebut dalam kisahnya bahwa Sulandono adalah putra Ki Baurekso, buah perkawinan dengan Dewi Ramtasari. Raden Sulandono memadu kasih dengan Sulasih, seorang putri dari Desa Kalisalak, namun hubungan keduanya tidak mendapat restu dari Ki Baurekso. Akhirnya Sulandono pun memilih untuk bertapa, sementara Sulasih menjadi seorang penari. Meskipun demikian pertemuan diantara keduanya masih terus berlangsung melalui alam gaib. Tari Sintren ini diperankan oleh gadis perawan, dibantu oleh seorang pawang dan pemain gendhing sebanyak 6 orang. Sesuai perkembangan waktu, maka tarian ini dilengkapi dengan penari pendamping dan “bador” (lawak).
  5. Batik. Seni membatik di Pekalongan sudah sangat terkenal di dunia, diantaranya motif Jlamprang, Cuwiri, Garuda Madep, Galaran dan banyak lagi. Batik Pekalongan memiliki ciri tersendiri di dalam segi motif maupun warnanya. Wara atau motif batik Pekalongan banyak dipengaruhi oleh gaya dan tradisi Tiongkok kuno.

 

Benny Prasetyo K.

Creativepreneur & Writer
@bennyprasetyok

Top