NAVIGATION

TRENDING POSTS

1 Highlight | Hotel | Millenium Hotel Sirih Jakarta

Sambut Tahun Baru 2017 Bersama Millennium Hotel Sirih Jakarta

2 Gaya Hidup | Tekno

Parenting di Era Digital

3 Food &Beverage | Highlight | Products

Mulai 1 April 2017, Ichitan Bagikan Hadiah Rp300 Juta

Budi Isman: “Menyikapi Kegalauan Rupiah”

Budi Isman: “Menyikapi Kegalauan Rupiah”

1380441878502686216

Pelemahan nilai tukar rupiah ternyata bukan hanya makanan kalangan menengah atas dan pekerja kerah putih saja, tapi sudah menjadi pembicaraan banyak kalangan. Pada waktu saya naik taksi, sang sopir berceloteh “makin susah hidup sekarang, pak” katanya.

“Saya dengar rupiah kita sedang turun banyak pak, jadi pasti hidup ini makin susah dan harga barang-barang kebutuhan pasti akan naik lagi nih” lanjut sang sopir taksi. Pokoknya, setiap rupiah kita lagi turun berarti harga akan naik dan hidup akan susah, katanya.

Dalam pikiran saya, berapa banyak dari masyarakat kita yang akan punya pandangan seperti sang sopir? Memang, untuk menjelaskan secara ilmiah penyebab turunnya nilai rupiah akan sulit diterima oleh kalangan awam. Namun efek psikologi bagi mayoritas masyarakat akan membawa dampak yang tidak kecil terhadap tindakan yang akan mereka lakukan.

Rupiah yang melemah selalu punya dua sisi. Buruk dan baik. Semuanya akan tergantung dari cara kita menyikapi. Negatif, bila semua pembayaran kita yang dalam bentuk mata uang dollar akan meningkat. Kalau kita suka beli buatan asing dan dibeli dalam dollar maka harganya pasti naik. Kalau kita punya utang dalam bentuk dollar, dan pendapatan kita dalam bentuk rupiah, maka jelas nilai utang kita makin besar. Kalau kita suka berpergian ke luar negeri, maka sekarang akan lebih mahal.

Baiknya ada juga. Bagi pihak luar, penurunan rupiah akan menyebabkan harga barang dan jasa di Indonesia akan lebih murah. Akan menarik untuk mereka membeli sekarang sehingga harusnya eksport kita bisa digencarkan lagi. Turis asing akan merasakan “Value for money” kalau berkunjung ke Indonesia dengan nilai tukar yang lebih rendah. Bangsa kita juga dipaksa untuk berpikir kreatif dan mencari alternatif pemakaian produk dalam negeri yang tidak diimpor.

Intinya, kita jangan cepat panik. Memang PR dari pemerintah untuk meningkatkan kembali cadangan devisa, mengurangi defisit neraca perdagangan dan sebagainya masih banyak. Tapi kita bisa ikut serta membantu dengan tidak ikut secara psikologis berasumsi dengan nilai Rupiah yang turun maka semua barang akan naik atau ekonomi akan hancur. Kita bisa ikut juga membantu dengan membeli produk dalam negeri sehingga pengusaha lokal akan terbantu juga.

Kurangi melancong keluar, mari manjadi turis Nusantara dan belanja di dalam negeri kita. Bagi para eksportir, kontak kembali langganannya dan cari tambahan order dengan situasi yang seperti ini. Bagi produsen, berpikirlah mencari alternatif bahan baku dalam negeri dan sekaligus berpikir meningkatkan produktivitas dan nilai tambah yang ada.

Jangan kita berpikir sepeti tukang sayur saya,” Mas..kok sayurnya dalam minggu ini naik harganya yah…?.” Jawabannya, “kan dollar lagi naik pak?”. Jadi bingung saya, hubungan harga sayur yang dari Bogor dengan dollar naik apa yah?

Budi Isman

Business Coach, Founder ProIndonesia|Smartpreneur

@BudiIsman

budi-satria-isman.com

Top