NAVIGATION

TRENDING POSTS

1 Hotel | Hotel

Ekspansi Parkside Hotels & Resorts di Tanah Air

2 Highlight | Hotel | Millenium Hotel Sirih Jakarta

Sambut Tahun Baru 2017 Bersama Millennium Hotel Sirih Jakarta

3 Gaya Hidup | Tekno

Parenting di Era Digital

Yuswohady Dan Bukunya “Marketing to the Middle Class Moslem”

Yuswohady Dan Bukunya “Marketing to the Middle Class Moslem”

Yuswohady

Bulan Agustus 2014 ini buku terbaru saya terbit. Judulnya “Marketing to the Middle Class Moslem“  dan di sini terdapat  6 temuan baru untuk melakukan marketing pada kelas menengah konsumen muslim di Indonesia.

1. The Principle of Customer: Customers become more religious. They begin to search for spiritual value

Inilah menariknya konsumen muslim Indonesia. Makin makmur mereka, semakin knowledgeable mereka, dan makin technology-savvy  justru mereka semakin religius. Mereka makin mencari manfaat spiritual (spiritual value) dari produk yang mereka beli dan konsumsi. Yaitu produk-produk yang menjalankan kepatuhan (compliance) pada nilai-nilai dan ajaran-ajaran Islam.

2. The Principle of Competition: Competition is about building brand persona. Connect your brand to the customer’s heart

Empat sosok yang mewakili potret kelas menengah muslim di atas memiliki impian, aspirasi, nilai-nilai, dan perilakunya masing-masing. Berdasarkan pemahaman mengenai karakteristik konsumen di masing-masing sosok, Anda akan tahu persis bagaimana memperlakukan mereka. Anda juga harus membangun personifikasi berdasarkan karakteristik dari masing-masing sosok tersebut, kemudian menciptakan koneksi emosional bahkan spiritual dengan mereka. Inilah yang kami sebut sebagai brand persona.

3. The Principle of Positioning: Be an inclusive brand. Be a Universal Icon

Untuk mengambil hati kelas menengah muslim, merek Anda harus ramah-bersahabat, merangkul semua (tak hanya eksklusif sebatas kalangan muslim); open-minded alias terbuka dan berlapang dada terhadap informasi, ide, pikiran, aliran, atau pengaruh dari manapun dan siapapun; toleran terhadap perbedaan, dan selalu berpikiran positif dengan landasan kekuatan cinta

4. The Principle of Differentiation: Build authenticity through commitment and passion. Create your own DNA.

Untuk membangun diferensiasi yang kokoh dan tak sulit ditiru oleh pesaing, maka merek Anda harus menjadi authentic brand. Anda tak cukup sekadar menempelkan label halal pada kemasan dan produk Anda. Untuk menjadi authentic brand, merek Anda harus menempatkan ketaatan kepada nilai-nilai luhur keislaman yang bersifat universal sebagai “reason for being” Anda .

5. The Principle of Value: Offer unique universal value. Balance your product and spiritual benefits

Ketika konsumen makin menuntut manfaat spiritual dari sebuah produk, maka kami melihat bahwa nilai tertinggi bagi konsumen akan terwujud jika produsen mampu menghasilkan apa yang kami sebut sebagai nilai universal (universal value), yaitu gabungan antara manfaat produk (yang terdiri dari manfaat fungsional dan manfaat emosional) dan manfaat spiritual yang kemudian dibagi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan oleh konsumen. Untuk sukses Anda harus membangun bauran manfaat fungsional, emosional, dan spiritual yang unik untuk mengunci persaingan.

6. Principle of Engagement: Connect your customers to each other. Build a community of messengers

Kaum muslim adalah kelompok sosial yang memiliki kesamaan tujuan yaitu untuk mencapai keselamatan di dunia dan akhirat dengan selalu menjalankan perintah-perintah Allah SWT dan menjauhi larang-larangan-Nya. Karena by default kaum muslim adalah sebuah komunitas, maka pendekatan pemasaran yang paling ampuh untuk menggarap pasar ini adalah dengan menggunakan pendeakatan komunitas (community marketing) dengan mengoneksikan satu konsumen dengan konsumen lain di dalam komunitas.

Yuswohady

Managing Partner, Inventure

www.yuswohady.com

@yuswohady

 

 

 

Top