NAVIGATION

The Brand Effect

Brand-Mei

Salah satu topik menarik seputar Pemilu Legislatif kemarin adalah the Jokowi Effect. Ulasan singkat ini akan membicarakan beberapa hal terkait branding dan pengaruhnya dalam rangkaian Pemilu 2014.

Dari perspektif branding, ada beberapa tipe brand sekaligus yang memengaruhi hasil Pemilu Legislatif tempo hari. Ada personal brand, ada brand partai, dan juga lainnya. Mari kita lihat hal ini dalam konteks partai dengan logo moncong putih.

Personal brand yang menonjol saat ini adalah Joko Widodo, yang sampai sekarang masih sangat didukung dan dielu-elukan media massa. Brand ini menonjol sejak perebutan posisi DKI 1, dan saat ini menuju ke posisi RI 1. Namun dalam konteks saat ini, dan di dalam ranah partai, di belakang (atau di atas) brand Jokowi ada brand Megawati dan juga brand Puan Maharani. Brand Megawati pun masih menggaungkan kuatnya brand ayahanda beliau, Presiden Soekarno.

Selain itu brand Megawati pun juga mempunyai karakteristik yang khusus di mana persepsi publik pun sudah lama terbentuk. Kemudian ada juga brand Puan, serta brand partai moncong putih. Semuanya adalah brand yang mempunyai ekuitas, dan karakter yang berbeda-beda; bisa saling mendukung, tapi bisa juga bertabrakan satu sama lain.

Suatu brand atau personal brand seseorang terbentuk karena berbagai faktor. Di dalam brand universe, setiap brand harus dimulai dengan mind identity atau inti dari brand tersebut. Kebenaran brand atau the core truth dari brand ada di sini. Dalam personal brand, ini terkait dengan esensi dan visi orang tersebut. Tapi jangan terlalu bergantung dengan kebenaran brand. Ada pepatah “the road to hell is paved with good intentions“. Jadi walaupun tujuan seseorang baik dan ikhlas, belum tentu orang tersebut lebih baik dari orang lain yang tampaknya tidak lebih “nice“. Sangat mungkin mind identity orang lain mempunyai pengetahuan dan skills yang lebih sesuai untuk pekerjaan seorang pemimpin.

Tentunya peran media dalam pembentukan persepsi terhadap suatu personal brand sangat tinggi. Brand Jokowi, contohnya, menjadi sangat kuat dalam waktu beberapa tahun diakibatkan sangat tingginya jumlah dan ragam liputan media. Tidak hanya karena beberapa pencapaiannya, personal brand Jokowi malahan banyak terbentuk seputar sifat dan gaya pribadinya yang sungguh berbeda dengan pejabat-pejabat lainnya: bersahaja, suka blusukan, nyeleneh, approachable, youthful (karena suka Metallica?), hands-on ke lapangan, dan karakter-karakter lainnya yang disukai media (dan berakibat disukai masyarakat luas).

Dalam branding, penciptaan persepsi terhadap suatu produk dan jasa bukan hal yang baru. Minuman soda yang cenderung merusak kesehatan dapat dipasarkan sebagai minuman yang meningkatkan gaya hidup. Rokok yang merusak paru-paru dipasarkan sebagai bagian dari “citra diri bangsa Indonesia”. Dalam politik, prinsip-prinsip dasar komunikasi dan brand building pun berlaku. Oleh karena itu, seperti saat kita makin cermat membeli barang konsumsi sehari-hari, memilih pemimpin bangsa tentunya harus sangat hati-hati. Effect dan akibatnya akan sangat terasa untuk waktu yang sangat panjang.

Yasha Chatab | @MrYasha

Group Business Development Director| WIR Group Indonesia

(Majalah Market+ Edisi 53)

Top