NAVIGATION

Bangga Almamater

12393827_m

Sebagian besar orang Indonesia memang gampang cinta dengan brand. Bahkan rela mempertaruhkan nyawa demi brand. Contoh yang sudah ada dari zaman 80an,  ya fanatisme brand sekolah, di mana salah satu output nya adalah: tawuran antar (brand) sekolah. Suatu SMA di daerah Bulungan pun merupakan hasil brand merger antara 2 brand sekolah yang berbeda, agar kedua sekolah tidak lagi bertikai. Bukan main!

Mari kita lihat sisi positif dari kuatnya brand sekolah dan almamater. Pencantuman nama almamater bergengsi di CV dapat meluluhkan obyektifitas seorang recruiter di suatu perusahaan. Kualifikasi sang pelamar kerja terdongkrak oleh kuatnya brand almamaternya. Values dari brand almamater yang tertulis, misalnya University of Springfield, akan otomatis menempel pada sang pencari kerja. Namun, misalnya recruiter perusahaan mempunya persepsi yang kurang baik terhadap sekolah tersebut, tentunya nilai jual si pelamar kerja akan menurun juga.

Selain di CV, kekuatan brand almamater biasa digunakan oleh para alumni dengan menempelkan stiker di mobil, misalnya yang tulisannya semacam “We are the Rainbow Jacket”. Aplikasi seperti itu mungkin kurang begitu efektif untuk networking, tapi lumayan untuk yang gemar berbangga saat berkendara.

School Ring adalah suatu aksesori yang cukup populer di Amerika Serikat, yang biasa dibeli saat menjelang lulus kuliah. Si pemesan cincin bisa memilih jenis batu, ukuran, dan lainnya. Namun, yang penting untuk dipahat pada cincin adalah nama, inisial kampus. atau logo dan tahun kelulusan. Banyak lulusan kuliah Amerika yang sangat membanggakan aksesori ini, dan benar-benar menggunakannya untuk networking.

Sekolah atau kampus yang bergengsi pun seperti hotel berbintang. Akreditasi maupun kualitas seharusnya diperiksa dan hasilnya dipublikasikan. Namun info seperti ini jarang sampai ke konsumen. Konsumen di sini adalah calon murid, mahasiswa ataupun orangtua mereka.  Padahal gengsi sekolah, terutama yang swasta, sangat berdampak pada tuition fee.

Selain kualitas pengajar yang prima, sekolah bergengsi zaman sekarang pun memberikan fasilitas yang nyaman dan modern sehingga tuition fee pun makin tinggi. Itu cukup fair, apalagi bila konsumen menyadari bahwa kebanyakan sekolah adalah profit-making entity. Beberapa sekolah modern pun sudah memperlakukan para mahasiswa nya seperti konsumen. Namun, masih ada yang kampus yang mahasiswanya  sering pindah antar gedung dan antar departemen di kampus. Padahal happy successful graduates akan menjadi brand advocates kampus tersebut seumur hidup mereka. (Yasha Chatab | Group Business Development Director | WIR Group Indonesia | @MrYasha) 

(Majalah Market+ Edisi 44)

Top