NAVIGATION

Menghindari Jebakan Medioker

Menghindari Jebakan Medioker

usaha-dagang

Mayoritas wirausaha ingin hebat di semua hal. Inilah fenomena yang banyak terjadi. Kualitas nomor satu, harga paling murah, servis bintang lima, pelayanan super cepat, bla.. bla.. bla!!!

Kalau betul kita bisa semuanya maka yang terjadi kira-kira begini: kualitas kita nomor 3; harga nggak murah-murah amat; servis so so… bagus nggak, jelek juga nggak; dan dari sisi kecepatan yang pasti layanan kita bukan yang nomor satu.

Ujung-ujungnya produk kita akan terjebak menjadi medioker alias produk rata-rata. Hebat nggak, tapi jelek juga nggak. Pasti kita tak akan menjadi “The Great”, tapi juga bukan “The Bad”. Kita cukup puas dengan hanya menjadi “The Good”… “The Mediocre”.

Trade-off

Ingat hukum alam: “you can’t be great at everything”. Kalau kualitas kita nomor satu, maka bisa dipastikan harga yang bisa kita tawarkan mahal. Ya, karena untuk menciptakan kualitas nomor satu, kita butuh ongkos untuk mewujudkannya, dan ongkos itu kita bebankan ke konsumen. Itu sebabnya harga kita tidak bisa murah. Selalu ada trade-off di antara keduanya.

Salah satu ciri pemain hebat adalah ia tak mau terjebak menjadi pemain medioker. Mereka tak mau terjebak untuk menjadi “hebat di SEMUA hal”. Mereka sadar, untuk berbeda mereka harus menjadi sangat hebat di satu atau dua hal, dengan konsekuensi buruk di hal-hal yang lain.

“Excellence requires underperforming,” ujar Frances Frei, penulis buku Uncommon Service (HBSP, 2013). Intinya, kita harus fokus mencapai kesempurnaan (excellence) di satu-dua hal yang konsumen betul-betul butuh. Dan di sisi lain, kita harus legowo untuk berkinerja buruk di hal-hal lain yang konsumen tak begitu peduli. Itu kalau kita tak mau terjebak menjadi medioker.

Fokus

Ambil contoh Soutwest Airlines yang di Asia model bisnisnya dijiplak habis oleh Air Asia. Maskapai penerbangan paling profitable di dunia ini sadar betul tak akan bisa hebat di semua hal. Karena itu ia memfokuskan diri di beberapa hal yang paling dibutuhkan target konsumennya. Apa itu? Yang paling utama adalah tiket murah dan tepat waktu… that’s it!

Untuk mencapai kesempurnaan layanan di dua hal tersebut maka Southwest harus merelakan hal-hal yang lain berkinerja buruk. Dalam hal sajian makanan-minuman, majalah atau film selama penerbangan, hingga airport lounge, kinerja Southwest bukan hanya buruk, bahkan ditiadakan sama sekali. Tujuannya satu, untuk menekan harga tiket hingga semurah mungkin.

Contoh lain IKEA. Gerai furnitur yang tahun ini bakal buka di Jakarta ini juga tahu persis bahwa ia tak akan bisa sempurna di semua hal. Ia sadar hanya bisa sempurna di satu-dua hal. Karena itu IKEA fokus hanya di beberapa atribut dimana ia berkinerja sempurna, yaitu: furnitur yang terjangkau, simple, dan fun karena konsumen bisa merakitnya sendiri (untuk berbagai varian model) tanpa bantuan tukang kayu.

Untuk bisa sempurna di atribut-atribut tersebut IKEA harus legowo untuk berkinerja buruk di atribut yang lain yang memang tidak ia fokuskan seperti: keawetan hingga bertahun-tahun (durability), sales assistance, lokasi gerai, dsb.

Impossible Triangle

Dalam industri konstruksi (membangun gedung, jembatan, dsb) dikenal apa yang disebut “segitiga kemustahilan” (impossible triangle). Sesuai namanya, segitiga ini mengandung tiga atribut yang saling trade-off satu sama lain, yaitu: kecepatan, kualitas, dan biaya.

Jika kita membangun gedung, maka kita bisa mencapai kualitas nomor satu, kecepatan super tinggi, tapi dengan konsekuensi harganya akan mahal. Ketika kita mengharapkan gedung terbangun super cepat, dan harga semurah mungkin, maka konsekuensinya kualitas akan terkorbankan. Intinya, dari ketiga atribut itu kita tidak akan mungkin mendapatkan ketiga-tiganya sekaligus.

Ilustrasi “segitiga kemustahilan” ini menunjukkan kepada kita bahwa kita tak boleh serakah memenangi semua atribut. Fokuslah di atribut-atribut tertentu dimana kita excellent, dan lupakan yang lain. Mengapa? Karena ketika kita serakah maka kita akan gampang masuk dalam lubang jebakan medioker. Kita akan menjadi pemain rata-rata.

Ketika MacBook Air ingin excellent di ketipisan dan keringanan, maka ia legowo untuk jeblok di kapasitas memori. Ketika Volvo ingin excelent di keamanan berkendara, maka ia legowo untuk jeblok di desain yang sporty. Ketika Zara ingin excelent di fesyen yang trendy (model berubah cepat) dan harga terjangkau, maka ia legowo untuk jeblok di sisi keawetan bahan.

Intinya, untuk sukses dalam berwirausaha, kita harus legowo agar tidak menjadi medioker.

Sumber: Yuswohady.com

Top