NAVIGATION

Menggertak dengan Brand

Menggertak dengan Brand

Ilustration

Ilustration
Ilustration

Brand  mempunyai kekuatan. Power. Influence. Seperti juga senjata, brand bisa disalahgunakan.

Di Jakarta yang kompleks ini, Pemerintah berusaha memberi berbagai pengaturan dan menindak pelanggaran aturan. Namun warga kerap melakukan pelanggaran karena berbagai alasan, mulai dari mencari “jalan pintas” karena minimnya enforcement.

Celakanya saat ada tindakan enforcement, maka brand beraksi! Contohnya apabila diberhentikan polisi, maka beberapa oknum akan langsung mengumpulkan “artefak brand” yang bisa menangkal surat tilang. Artefak-artefak brand ini biasanya adalah atribut kemiliteran “resmi” yang menunjukkan keanggotaan, pangkat, hingga SIM yang menunjukkan alamat kompleks angkatan.

Di konteks yang lebih grassroot, penggunaan atribut jaket, topi, badge, dan materi-materi lain yang menunjukkan asosiasi dengan ormas “agama” atau suku juga sering disalahgunakan.

Artefak brand yang memang dengan sengaja diletakkan di eksterior mobil seperti stiker “sakti” di kaca mobil, hiasan “burung garuda” di plat nomer,  gantungan “hiasan” pangkat di spion tengah, topi atau baret di dashboard, dan  lainnya. Seperti kita tahu, yang melakukan hal-hal tersebut adalah oknumnya langsung, keluarga si oknum, atau orang lain yang mempunyai hubungan khusus dengan oknum sehingga berani menggunakan atribut-atribut tersebut.

Hasilnya jelas: berbagai kemudahan dan efisiensi waktu dalam kehidupan sehari-hari, bisa terhindar dari enforcement aparat, penyalahgunaan fasilitas khusus (seperti jalur busway), parkir mobil yang lebih “bebas”, dan lainnya.

Hal ini sebetulnya cukup universal. Mobil korps diplomatik asing yang menyerobot jalur busway pun melakukannya karena adanya special privileges yang dikukuhkan dengan plat nomor CD nya. Di berbagai kota besar dunia, mobil-mobil dengan plat nomor diplomat cukup dikenal sering melakukan pelanggaran parkir, sebagai contoh pelanggaran yang “ringan” dengan memanfaatkan plat nomor khusus.

Namun beberapa contoh tadi benar-benar menunjukkan kekuatan brand. Para pengguna sangat bangga dan confident dengan brand yang dipertunjukkan. They are BRAND BELIEVERS, meskipun kerap menyalahgunakannya.

Sementara itu, ada  beberapa brand yang mempunyai equity tinggi karena sejarahnya yang panjang dan bermakna. Beberapa brand tersebut mempunyai nilai-nilai yang kuat dan sejarah implementasi dan aksi yang mengesankan. Namun ada beberapa brand yang disegani tersebut hanya dikenal karena reputasinya yang disegani. Nah persepsi seperti itu tentunya tidak diinginkan oleh brand yang ingin sustainable dan berniat untuk terus jaya di tengah berbagai perubahan kondisi yang selalu konstan terjadi.

Oleh karena itu, pemilik dari brandbrand yang (saat ini) mengesankan dan disegani pun HARUS mengontrol pemakaian brand mereka secara ketat. supaya artikel seperti ini tidak sering muncul, dan juga supaya brand nya dihormati, bukan hanya ditakuti. (Yasha Chatab, @MrYasha; Group Business Development Director, WIR Group Indonesia)

 

(Majalah Market+ Edisi Februari 2014)

Top