NAVIGATION

Adil Pada Anak

Adil Pada Anak

Ilustration

Orangtua dari klien remaja saya menyatakan bahwa dia merasa anak perempuannya yang beranjak remaja mengalami banyak tekanan. Sebagai anak SMA kelas 3 selain harus mempersiapkan diri dengan ujian nasional, anaknya juga mengikuti banyak les. Akibatnya, orangtua merasa hal itulah penyebab ketidakmampuan anak mengendalikan diri.

Remaja putrinya menjadi mudah marah, menghardik pembantu dan adik bahkan orangtuanya, serta menangis berkepanjangan. Saat saya bertemu dengan klien tersebut diketahui bahwa selain kepribadian anak yang sensitif dan introvert, ternyata selama ini remaja putri tersebut memiliki perasaan diperlakukan tidak adil oleh orangtua dibanding saudara-saudaranya yang lain.

Sebagai psikolog saya beberapa kali menemukan hadirnya masalah emosi pada anak maupun remaja yang ternyata bersumber pada bagaimana orangtua memperlakukan dengan berbeda anaknya satu sama lain. Tidak sedikit masalah ini saya temukan pada klien yang orangtuanya bahkan tidak merasa  mereka kerap dipersepsi tidak adil oleh anak.

Kondisi ini menyebabkan apapun yang disampaikan orangtua akan diikuti dengan prasangka jelek oleh anak akibat kurang baiknya hubungan. Terlebih lagi bila terdapat pemicu yang tidak menguntungkan di luar diri anak, seperti tekanan di sekolah, teman dan lingkungan pergaulan sehingga kapan saja emosi anak dapat meledak.

Hal ini menggelitik saya untuk mengajak orangtua yang dianugerahi anak lebih dari satu untuk berpikir apakah kita berperilaku adil. Apakah tanpa sadar dikarenakan suatu adat dan budaya maka kita memperlakukan istimewa anak lelaki kita dibanding anak perempuan kita?

Selain itu, apakah karena usia yang berbeda maka kita selalu meminta anak tertua untuk mengalah pada adik-adiknya. Tanpa disadari kita melakukan tindakan kecil yang dipersepsi tidak adil bagi anak lain, misalnya bila belanja bersama kakak selalu mengingatkan kakak untuk memilihkan oleh-oleh bagi adik-adiknya, sementara bila sang adik dan mama yang belanja tidak ingat untuk membawakan makanan kecil untuk sang kakak. Atau, karena salah satu anak kita sudah menjadi remaja laki-laki maka kita sudah tidak pernah lagi memeluk maupun membelai kepalanya sementara hal tersebut selalu dilakukan pada anak kita yang lebih kecil.

Dalam pengasuhan, kata adil tidak berarti semua harus sama dalam kualitas maupun kuantitas, karena adil yang dipersepsi oleh anak-anak belum tentu sama dengan adil yang dipersepsi oleh orangtua. Akan tetapi dari hal sederhana berupa pemberian kasih-sayang, tanggung jawab dan aturan yang sesuai dengan proporsinya dari aspek usia maupun kemampuan anak, tentu akan menghadirkan perasaan sama dan senasib sepenanggungan di antara anak-anak.

Hal ini nantinya akan mengurangi timbulnya persaingan antar saudara yang dapat berbuntut pada kebencian satu sama lain. Perasaan diperlakukan sama oleh orangtua pada anak akan menghasilkan perasaan positif yang memudahkan komunikasi untuk menanamkan pengajaran tentang kehidupan dari orangtua. Kita bisa bertindak adil! (Tia Rahmania,M.Psi ; Dosen di Prodi Psikologi, Universitas Paramadina dan Psikolog di Kancil, Jakarta)

(Majalah Market+ Edisi Februari 2014)

Top