NAVIGATION

Trend Retail & Prediksi 2014: Seamless Omni-channel Retailing

Ilustrasi
Ilustrasi

Kunci utama dalam dunia retail: agility. Ketangkasan dalam menghadapi berbagai keadaan. Prediksi trend retail di tahun 2014 akan memberi gambaran strategi apa yang perlu kita ambil.

The future is omni-channel: kombinasi dari berbagai macam cara (dan channel) untuk berbelanja namun tetap bisa memberikan brand-feeling yang sama. Baik di physical store, web, smartphones, TV ataupun media sosial

Kini konsumen memiliki kemudahan mengakses informasi tentang apa yang ingin dibeli lewat berbagai media, kapanpun, di manapun. Kemudahan ini memicu konsumen berekspektasi untuk dapat berbelanja lewat cara apapun, kapanpun, semudah mungkin, dengan brand experience yang sama. Highlight: brand experience yang sama.

Mix-media dan mix-channel ini juga membuat marketers dan retailers makin susah untuk mengikuti dan mengontrol customer journey dan decision making konsumen berbelanja.

Satu survey menunjukkan 60% responden menginginkan tahun 2014 berbagai macam channel ini menyatu dengan seamless, memudahkan mereka berbelanja dengan feeling yang sama. Sayangnya 50% dari responden juga mengatakan kebanyakan retailers masih sangat tidak konsisten dalam merepresentasikan brand nya di channel yang berbeda-beda tadi.

Solusinya? Memastikan antara lini channel brand kita tidak ada gap atau perbedaan penyajian servis, feeling, penampilan dan brand message. Jadi kalau saat ini kita masih tidak menganggap visual merchandising webstore kita sama penting nya dengan visual merchandising di physical store, dan tidak merasa bahasa yang dipakai brand kita di media sosial sama penting nya dengan bahasa di physical store, hmmm saatnya buat strategi lagi.

Beberapa brand besar seperti Burberry, Topshop dan M&S bahkan sudah mulai menjawab tantangan ini. Topshop di Inggris me-launch sebuah kampanye di mana konsumen mendapat sesi styling dan make-up gratis saat mereka belanja di physical store, kemudian diajak untuk membuat kartu pos digital “Wish you were at TopShop” dengan Instagram.

Setelah difoto, konsumen mendapat print copy fotonya dan bisa diunggah ke Facebook. Dalam waktu 4 hari kampanye ini berhasil memicu 640 liputan blog, dengan 1.4 juta reach, 5.3 juta views di Facebook dan 2,000 komentar. Sebanding dengan aktivitas Topshop di Facebook selama setahun, hanya dalam 4 hari. Hasilnya? Topshop menjadi fashion retailer #1 di Instagram.

Kembali ke brand kita. Strategi apa yang bisa kita ambil untuk “menjahit” semua lini channel brand kita guna memberikan brand experience yang sama? That’s our 2014 challenge. (Paulina Purnomowati | Brand & Strategic Retail Consultant | @paulinapungky)

 

(Majalah Market+ Edisi 50)

Top