NAVIGATION

Paradox Thinking di Tikungan 2014

Paradox Thinking di Tikungan 2014

1755272_m

Di tengah kondisi bisnis 2014 yang penuh risiko dan digayuti pesimisme saya menganjurkan para marketer untuk berani take risk dengan berpikir terbalik (paradox thinking), alias berpikir berlawanan dengan arus pemikiran umum (mainstream thinking).

Maksudnya, kalau pemain lain melakukan fokus pada cost reduction karena dolar sulit dijinakkan, Anda justru fokus ke growth. Kalau para pemain lain cenderung “wait and see” menghadapi kondisi bisnis yang tak menentu, Anda justru harus proaktif dan merespons pasar dengan gerakan-gerakan yang agresif dan menggebrak pasar.

Saya ingat cerita dari bu Martha Tilaar saat merespons krisis ekonomi 1998 lalu. Saat itu perusahaan di negeri ini tiarap tidak melakukan apa-apa. Hampir semua perusahaan waktu itu memotong anggaran, tidak beriklan, tidak menciptakan produk baru, tidak melakukan kampanye pemasaran.

Namun Bu Martha berpikir terbalik. Ia justru menggenjot iklan di TV dan agresif meluncurkan produk-produk baru (antara lain Lipstik Dwi Warna berkonsep value for money yang laris manis). “Karena yang lain tidak beriklan, maka iklan kita exposure-nya sangat tinggi,” ujarnya.

Kalau dianalogikan dengan balapan MotoGP di sirkuit, saya menggambarkan tahun 2014 sebagai “tahun di tikungan” yang penuh risiko. Ketika umumnya pemain bermain aman dengan mengerem laju kendaraan, kita justru harus menyalip pesaing di tikungan. Ingat, pembalap umumnya bisa menyalip pesaing justru ketika berada di tikungan, bukan di jalanan sirkuit yang lurus.

Ketika keadaan serba sulit, maka efektivitas produktivitas kampanye pemasaran menjadi demikian krusial. Karena itu setiap rupiah yang Anda keluarkan untuk membangun strategi haruslah menghasilkan dampak yang powerful.

Berbicara mengenai low budget high impact, maka marketer harus mengusung konsep program yang nyleneh, dengan memanfaatkan media seperti media sosial, komunitas, atau digital. Karena itu di tahun depan, konsep kampanye pemasaran yang berbasis word of mouth (WOM), buzz, atau viral di media sosial akan marak dan menjadi pilihan yang kian diminati marketer.

Melihat kenyataan ini saya berharap tahun 2014 merupakan momentum penting bergesernya orientasi marketer kita dari promosi menggunakan paid media (TV, koran, billboard) yang mahal, ke owned/earned media (website, blog, Twitter, Facebook, mobile site) yang lebih murah dan efektif.

Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, konsep value for money pun menjadi senjata ampuh untuk memenangkan hati konsumen. Ketika kondisi ekonomi sulit, maka konsumen menjadi lebih rasional. Mereka akan memilih produk yang memberikan best value, yaitu produk yang memberikan manfaat tertinggi dengan harga termurah.

Karena itu, mulai saat ini para marketer harus memeras otak untuk menghasilkan value terbaik untuk dapat menaklukkan hati konsumen yang sangat value-oriented di atas.

(Yuswohady | Managing Partner | www.yuswohady.com | @yuswohady)

(Majalah Market+ Edisi 50)

Top