Kepekaan Sosial dan Optimisme Seorang Pemimpin

Kepekaan Sosial dan Optimisme Seorang Pemimpin

0 4
photo by: Imang Jasmine

Menjadi seorang pemimpin sebuah perguruan tinggi tak membuat Anies lekas puas dan terlena dengan posisi nyaman tersebut. Jiwa sosialnya memanggil untuk berkontribusi lebih terhadap sesama. Pada pertengahan 2009, dirinya dan beberapa teman menggagas sebuah gerakan yang peduli terhadap pendidikan di pelosok negeri. Lahirlah Indonesia Mengajar yang merangkul anak-anak muda Indonesia untuk mengajar selama setahun di desa-desa.

Cucu dari mantan Menteri Penerangan Indonesia, AR Baswedan ini menganggap pembentukan Indonesia Mengajar sebagai salah satu pengalaman paling menantang dan sarat rintangan. “Kami tahu kecilnya animo putra-putri terbaik Indonesia untuk menjadi guru. Namun demikian, kami tetap yakin mereka masih menaruh minat untuk mengajar di pelosok-pelosok desa selama rentang satu sampai dua tahun,” ujar Anies.

Pria kelahiran 7 Mei 1969 ini mengaku merintis Indonesia Mengajar hampir tanpa referensi. Anies memaparkan, “Sesungguhnya pada tahun 1950-an, pemerintah berupaya mengisi kekurangan guru di pelosok nusantara melalui program Pengiriman Tenaga Mahasiswa (PTM). Tetapi saat ini implementasinya jelas berbeda.”

Anies memandang gerakan yang dibesutnya ini ibarat berlayar sembari merakit kapal. Ia dan rekan-rekannya merekrut Pengajar Muda (sebutan bagi relawan di Indonesia Mengajar) seraya mempelajari kriteria pengajar dan pemimpin yang ideal. “Kami menyusun sistem pelatihan sambil belajar tentang sistem kurikulum Indonesia dan kepengajaran. Dengan cara learning by doing, saya percaya proses pembelajaran ini akan membuahkan dampak yang paling melekat,” ucap alumni UGM ini.

Melihat kondisi Indonesia dengan segala romantika berbangsa dan bernegaranya, Anies berhadapan dengan dua pilihan: lipat tangan atau ikut turun tangan. Dirinya dengan tegas mengambil keputusan yang kedua.  Anies mengungkapkan, “Ketika pilihannya jelas, maka arah perjuangannya akan menjadi jelas pula. Kini bukan saatnya kita mencari siapa atau sistem apa yang salah, melainkan apa yang bisa kita lakukan, apa yang dapat kita bantu,”

Di tengah berbagai kegiatan yang digelutinya, Anies tetap menempatkan keluarga di prioritas utama. Apapun pilihan yang diambilnya, pria yang pernah masuk daftar 100 Intelektual Publik Dunia versi majalah Foreign Policy ini selalu mempertimbangkan apakah dirinya mampu tetap menjalankan amanah sebagai kepala keluarga dengan baik. Di mata Anies, keluarga merupakan pondasi utama sebuah negara. Korelasi dan interaksi jutaan keluarga membentuk suatu kesatuan bernama Indonesia. “Anak-anak yang tumbuh dengan karakter kuat akan memiliki kapabilitas membangun bangsa sehingga terciptalah Indonesia yang kuat,” kata Anies optimis.

Menjadi bangsa yang kuat tentu saja bukan hal yang mudah didapatkan. Butuh pembentukan karakter (character building) sebagaimana diterapkan Anies di kampusnya. Paramadina merupakan universitas pertama di negara ini yang mewajibkan tiap mahasiswa mengambil mata kuliah anti korupsi. Melalui mata kuliah ini, diharapkan para mahasiswa memahami efek jahat korupsi dan mendapat pembekalan untuk memerangi korupsi.

Disinggung mengenai arti kepemimpinan baginya, Anies berpendapat action speaks louder than words. Ia mengajarkan anak-anaknya perihal kepemimpinan melalui teladan. Sesekali suami dari Fery Farhati Ganis ini mengajak anak-anaknya di luar jam sekolah untuk mengikuti acara-acara yang dihadirinya.  Dengan demikian, anak-anaknya diharapkan mampu belajar tentang kepemimpinan dan kepedulian, serta bertemu dengan banyak orang yang inspiratif. (PATRES)

NO COMMENTS

Leave a Reply