Refleksi Keadilan dari Sepasang Sandal

12/01/2012 1:12 pm0 commentsViews:

Belum lama ini, tersiar kabar memprihatinkan mengenai seorang remaja 15 tahun berinisial AAL yang terancam Pasal 362 KUHP dengan hukuman lima tahun penjara, akibat mencuri sandal seorang personel kepolisian. Lebih jauh lagi, AAL sempat mengalami tindak penganiayaan oleh tiga orang oknum polisi lain sebagai buah perbuatannya.

Pemberitaan tersebut menyebar hampir di seluruh media dan mengundang reaksi kontra atas putusan hakim tersebut. Diantaranya Komisi Perlindungan Anak, yang bersikap vokal dan berargumentasi bahwa pengadilan tidak memiliki bukti yang cukup kuat untuk memutus bersalah AAL (sumber: CNN.com). Kelompok masyarakat berbasis agama semacam PBNU pun menyatakan rasa kecewanya. Seperti yang dilansir dari suaramerdeka.com, Ketua Umum PBNU, K.H. Said Aqil Siroj, mengutarakan pendapatnya bahwa hukum sekiranya harus menjunjung rasa kemanusiaan.

Di samping protes keras yang disampaikan oleh sesama warga negara, ada hal lain yang menarik perhatian dari kasus ini. Berbagai media internasional semacam BBCCNNABC News,Voice of AmericaNew York TimesInternational Business TimesWall Street JournalRadio AustraliaNew Zealand HeraldHindustan Times,Washington Post, juga kantor berita Associated Press (AP) dan Agence France-Presse (AFP)   rupanya melirik isu pencurian sandal yang berbuah ancaman hukuman lima tahun penjara, sebagai bagian dalam pemberitaan mereka.

Tentunya pemberitaan tersebut menjadi hal yang disayangkan. Indonesia yang bercita-cita dikenal dunia internasional atas prestasi dan potensi yang dimiliki, kini menghadapi berita ironis mengenai ketidakadilan. Terlebih lagi, tak hanya satu atau dua media besar saja yang menyebarkan pemberitaan ini.

Bukan rahasia bila media senantiasa mengincar sesuatu yang sensasional untuk mencuri perhatian para pembaca. Dibubuhi judul penuh kritik menggelitik semisal Indonesians Have New Symbols for Injustice: Sandalsseperti yang digunakan oleh Associated Press, tak heran bila orang mengernyitkan dahi membaca artikel tersebut. Wajah Indonesia sebagai negara demokratis kembali tercoreng akibat kasus yang satu ini.

Dalam pemberitaan pencurian sandal ini, media beritikad baik menjalankan fungsi surveillence dan penyampaian informasi sebagaimana pakar komunikasi Harold Laswell (1948) ungkapkan mengenai empat fungsi media massa. Namun, dalam proses penyampaian hingga hasil akhirnya, bukan tidak mungkin terjadi distorsi informasi. Pada akhirnya, media memegang andil dalam mengarahkan publik terhadap opini tertentu. Hal tersebut yang dikhawatirkan menjadi hyperealitas.

Melihat beragam cara pemberitaan yang dilakukan media saat ini, bisa jadi sebagian besar dari kita mengutuk ulah oknum kepolisian. Stereotipe mengenai kebobrokan aparat pemerintah tersebut semakin melekat di benak. Namun, kita harus ingat, penegakan hukum tidak cukup dengan penyampaian simbolis keprihatinan. Sudahkah kita mulai keadilan di lingkungan terdekat?

Harapan Indonesia lebih baik merupakan cita bersama. Setiap elemen masyarakat mendambakan kehidupan harmonis dan menjunjung nilai keadilan dan kemanusiaan. Tak perlu menunggu kasus serupa atau kampanye lewat sosial media terjadi untuk memulai kepedulian terhadap sesama. Lakukan mulai dari yang terdekat hingga kepada mereka yang belum pernah Anda temui sebelumnya. (PATRES)

January 2012
S M T W T F S
« Dec   Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031