Reza Rajasa: Sukses Melalui Jerih Payah dan Proses

Reza Rajasa: Sukses Melalui Jerih Payah dan Proses

0 331
M. Reza Ihsan Rajasa (foto: Agus)

Beberapa family business papan atas di Indonesia berhasil tumbuh dan berkembang dari generasi ke generasi. Salah satu kunci suksesnya adalah adanya suksesi regenerasi yang baik dan terencana.

Perusahaan keluarga sudah tentu akan memilih anggota keluarganya sebagai pemegang tampuk kepemimpinan. Generasi kedua yang melanjutkan bisnis keluarga bisa saja tidak mengerti sama sekali mengenai bisnis yang sedang dijalani.

Ini karena adanya stigma bahwa generasi penerus hanya orang yang beruntung dan tidak perlu berusaha keras, tinggal mewarisi hasil kerja generasi sebelumnya. Anggapan itu sama sekali tidak benar bagi sosok yang memiliki nama lengkap M. Reza Ihsan Rajasa.

Market+ akhir Juli lalu tepatnya Kamis (28/7), menyambangi kantor pengusaha muda Reza Rajasa di kawasan Kuningan, Jakarta Pusat. Reza, memang anak seorang pengusaha sekaligus pejabat negara, Hatta Rajasa. Namun, predikat tersebut tidak menjadikannya besar kepala. Dia adalah sosok generasi muda yang tekun dan tidak mudah menyerah.

Mandiri Sejak Di Bangku Sekolah

Meski sejak kecil hidup berkecukupan, Reza memiliki keluarga yang mendidiknya untuk hidup mandiri. Dia menuturkan, setelah lulus SMP,   pria kelahiran Jakarta, 21 Maret 1983 ini langsung bersekolah jauh dari keluarga. “Di hari pertama saya masuk SMA di Melbourne, saya sudah disuruh ayah saya berjalan dari hotel tempat menginap ke sekolah. Dan dia langsung ke bandara untuk kembali ke Indonesia,” kenang Reza.

Lepas SMA, Reza tidak langsung kembali ke Indonesia, dia melanjutkan pendidikannya di Mechanical Engineering Drexel University, Philadelphia, Amerika Serikat.  Bidang teknik dipilihnya karena secara tradisi, keluarganya adalah keluarga insinyur. Ayahnya adalah seorang insinyur lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Bisnis Pertama dan Awal Karir

Jiwa entrepreneur memang sudah melekat dalam diri Reza. Saat mengenyam pendidikan tinggi di Negeri Paman Sam, dia sudah terpikirkan untuk berwirausaha. “Waktu kuliah di Amerika, saya bersama teman-teman sempat memproduksi dashboard mobil yang diproduksi di Indonesia dan saya jual di sana,” ungkapnya.

Reza menambahkan, dalam sebulan dia sempat memproduksi produknya tersebut hingga 25 buah dengan harga 600 US$ setiap setnya. Dalam perjalanan bisnisnya, Reza menemui beberapa hal yang membuatnya mengambil keputusan untuk berkarir.

“Setelah lulus kuliah, saya langsung bekerja di Boston selama dua tahun. Di sana, selama 2006 – 2008 saya juga banyak menimba ilmu dan pengalaman,” ujar suami dari Kusuma Anggraini. Selain itu, reza juga sempat bekerja pada sebuah perusahaan minyak selama dua tahun. Hal tersebutlah yang menjadikannya semakin mantap untuk menekuni karir di bidang pertambangan, seperti yang dilakukan sang ayah.

Bergabung Dalam Family Business

Pada tahun 2008, penghobi golf inipun bergabung dan menyokong perusahaan yang dibangun ayahnya di PT. Arthindo Utama. Jabatan sebagai General Manager pun langsung berada dalam genggamannya. Meski demikian, hal tersebut tidak membuatnya sombong.

“Sebenarnya saya tidak mau ujug-ujug masuk ke family business, tapi sebelumnya saya juga sempat bekerja di bidang ini dari bawah. Saya memiliki beban moral dan responsibility yang besar dalam mengembangkan bisnis keluarga ini,” ucapnya.

Karena menyadari usianya yang masih muda dan terdapat karyawan yang memiliki banyak pengalaman, dia selalu membutuhkan banyak bantuan dan bimbingan dari para pegawai senior.

“Di Arthindo ada beberapa pegawai senior yang sudah puluhan tahun bekerja di sini, dan dibandingkan mereka, saya cuma anak kemaren sore. Untuk itu saya sangat menghormati dan memerlukan bimbingan mereka untuk menjalankan perusahaan ini,” tukas sulung dari empat bersaudara.

Perempuan yang dipersuntingnya adalah cucu Mooryati Sudibyo, Kusuma Anggraini. Dia adalah putri pasangan Djoko Ramiadji dan Merinda Rubiyanti. Menurut putra sulung di antara empat bersaudara itu, mereka berdua adalah pasangan yang memiliki sifat bertolak belakang.

Ketika ditanya mengenai entrepreneurship di Indonesia, pria yang resmi melepas masa lajangnya pada 6 Juni 2009 ini berpendapat bahwa, pada dasarnya sifat entrepreneurship sudah dimiliki oleh setiap orang, dan seharusnya hal tersebut harus dihidupkan untuk menyokong perekonomian di Indonesia.

Reza juga menambahkan, untuk menjadi entrepreneur yang sukses diperlukan kesabaran dan perlu beberapa tahapan untuk dilewati. “Tidak ada jalan pintas untuk menuju kesuksesan, semua ada prosesnya dan tidak ada yang instan. Alhamdulillah saya pernah melewati proses dan jerih payah tersebut,” aku Reza.

Dia juga beranggapan bahwa, “Entrepreneur tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Justru sebuah negara menjadi maju dimulai dari UKM-UKM yang berkembang dan memiliki kuantitas yang banyak.” (Agus)

NO COMMENTS

Leave a Reply