Pelit Energi vs. Hemat Energi

Pelit Energi vs. Hemat Energi

0 26


Efisiensi Energi

Pelit Energi vs. Hemat Energi

Apa yang terlintas di pikirkan Anda saat mendengar “hemat energi”? Seringkali orang menganggap hemat energi berarti mematikan alat-alat elektronik, mematikan lampu, bahkan AC.

Orang menganggap bahwa hemat energi berarti harus mengorbankan kenyamanan di gedung, misalnya seperti AC sentral yang dimatikan pada pukul 16.00 atau lift gedung yang hanya berhenti di lantai genap. Perlu dibedakan antara hemat energi dan pelit energi. Hemat energi seharusnya tidak mengorbankan produktivitas kita dan bahkan sudah banyak penelitian dan cerita sukses tentang bagaimana hemat energi justru meningkatkan kenyamanan, produktivitas, dan penghasilan.

Apakah rekan kerja Anda mengeluh tidak mampu berkonsentrasi saat AC dimatikan lebih awal atau lampu terlalu redup? Hal-hal seperti itu bukanlah efisiensi energi, karena penggunaan energi berkurang, tingkat produktivitas dan kenyamanan juga berkurang drastis. Efisiensi energi bukan berarti menghentikan penggunaan energi secara total, tapi justru dilakukan untuk meningkatkan produktivitas.

Hemat energi sebaiknya dilakukan dengan efisiensi energi. Efisiensi energi adalah salah satu cara bisnis mempersiapkan diri untuk menghadapi risiko di masa depan yaitu krisis energi. Hal tersebut sama dengan bagaimana kita bisa mendapatkan manfaat dan output yang sama dari sebuah produk atau alat, namun dengan menggunakan lebih sedikit energi. Karena efisiensi energi adalah “use less, get more.”

Behaviour Change

Efisiensi energi di lingkungan perkantoran dan bisnis menjadi hal yang menarik, karena selain merupakan keseimbangan antara penghematan dan produktivitas, namun ternyata manfaat-manfaatnya juga signifikan. Di lingkungan kerja atau gedung perkantoran, efisiensi energi biasanya dilakukan dengan dua cara yaitu behavior change (perilaku yang efisien dan perawatan alat elektronik) dan retrofitting.

Merubah perilaku atau behavior change, agar menjadi lebih hemat energi adalah suatu hal yang sangat sederhana dan tanpa biaya namun mampu menghemat sampai 5-10% dari total biaya listrik (sumber: Green Building Council Indonesia). Untuk pelaku bisnis, perubahan perilaku efisiensi energi menjadi potensi penghematan yang menarik tanpa harus banyak investasi. Sainsbury, chain toko swalayan besar di Inggris, berhasil menghemat 5% dari total konsumsi energinya dengan menunjuk satu orang di masing-masing toko untuk bertanggung jawab atas manajemen energi yang efisien. Singapore Oxygen Air Liquid Ltd mengubah perilaku mereka dengan mematikan chillers saat tidak lagi beroperasi dan berhasil menghemat 2160 MWh, atau Rp 2,2 miliar.

Retrofitting

Sementara retroffiting adalah proses merombak ulang atau sebagian dari sebuah gedung untuk meningkatkan performanya dan potensi penghematan energi bisa mencapai 40%. Proses ini meliputi analisa kondisi gedung pada saat ini dan implementasi solusi-solusi yang memungkinkan gedung untuk beroperasi lebih maksimal. Proses retrofitting meliputi pendekatan terintegrasi dari ilmu arsitektur, desain interior, sistem mekanikal elektrikal, teknik bangunan, dan umumnya termasuk juga equipment upgrade. Salah satu contoh retrofitting adalah kantor EECCHI, lembaga pemerintah yang bertugas meningkatkan kesadaran masyarakat tentang efisiensi energi, yang terletak di lantai 5, Gedung Annex Dirjen Ketenegalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Sebelum retrofitting, penguhuni kantor terpaksa bekerja di ruangan yang lembab dan bersuhu sekitar 30°C karena AC sentral dimatikan pada pukul 15.00. Cahaya di ruangan redup dan suasana kantor sangat bising akibat suara-suara kendaraan di jalan raya yang tedengar sepanjang hari. Setelah di-retrofit, EECCHI berhasil menghemat energi sebesar 40% dan justru meningkatkan kenyamanan pengguna. Interiornya di-retrofit dengan meninggikan langit-langit untuk memperbaiki ventilasi dan cahaya. Cahaya alami dimaksimalkan dengan mengganti seluruh partisi tembok dan dinding dengan kaca dan menggunakan jendela dua lapis yang mampu menahan panas matahari dan kedap suara. Warna furnitur dan cat tembok yang cerah membantu memantulkan cahaya dan meningkatkan mood pengguna kantor, terlebih dengan lantai bambu yang menambah suasana hangat.

Efisiensi energi sudah menjadi praktek yang umum di negara-negara maju dan bahkan beberapa negara ASEAN seperti Singapura dan Thailand. Sudah aaatnya perusahaan-perusahaan di Indonesia mengambil posisi sebagai pemimpin dalam hal sustainable and responsible businesses. Untuk informasi lanjut, kunjungi www.konservasienergiindonesia.info. (Energy Efficiency and Conservation Clearing House indonesia (EECCHI))

NO COMMENTS

Leave a Reply