Merdeka Di Tanah Air dan Ranah Internet

Merdeka Di Tanah Air dan Ranah Internet

0 35

Tahun ini, Indonesia akan merayakan hari kemerdekaan yang ke-66 tahun. Dalam pembukaan UUD’45 paragraf ke-2 berbunyi, “Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.” Masih ingatkan Anda?

Kita sebagai bangsa dan negara telah mendeklarasikan kemerdekaan, di mana tidak ada lagi penjajah yang menduduki bumi pertiwi ini. Namun, kemerdekaan masing-masing individu warga negara seharusnya lebih tinggi dari itu. Ya, mungkin sekarang ini kita sudah memiliki kemerdekaan untuk mengemukakan pendapat. Namun, kita juga harus memiliki kemerdekaan untuk berpenghasilan cukup dan kemampuan untuk menghidupi keluarga. Saya cukup pesimis, bahwa kemerdekaan semacam ini bisa kita ‘todongkan’ pada pemerintah. Jadi, kita hanya bisa melakukan apa yang bisa kita lakukan dalam hidup dan membuat perubahan di sana.

Berdiri di tengah lingkungan saya sekarang, perhatian saya tertuju pada internet. Karena bahkan di sana, rakyat Indonesia belum merdeka. Ya, kita bahagia berada di peringkat ke-2 dalam jumlah populasi Facebook di dunia. Tapi, siapakah pemilik Facebook? Kita bahagia menjadi pengguna search engine dengan tingkat pertumbuhan tertinggi di dunia. Tapi, siapakah pemilik Google? Kita masih menjadi konsumen mereka. Jadi apakah kemerdekaan dalam internet sesungguhnya? Yang pasti bukan hanya kemerdekaan untuk mendapatkan informasi.

Sebagai bangsa, kita sukses memanfaatkan internet sebagai alat sosial. Jadi, mari manfaatkan internet sebagai alat ekonomi dan bukan tidak mungkin bila kita bisa memfungsikan relasi dengan internet menjadi sumber ekonomi baru. Bayangkan bila setiap orang pada satu saat dan di satu tempat menggunakan 15% saja waktu bersosialisasi di internet untuk menjadikan waktu produktif secara ekonomi. Apa yang akan Anda lakukan? Banyak pilihan – membuat situs untuk menjual sesuatu, membuat akun Facebook untuk menawarkan sesuatu, membuat akun Twitter untuk mempromosikan produk Anda. Apabila situs sudah dibuat, gunakanlah SITTI sebagai platform beriklan untuk berpromosi pada 15 – 20 juta pengguna internet.

Akhir kata, mari kita menikmati kebebasan untuk berpenghasilan. Mengutip teman saya Rene Suhardono: “In the end let’s not be China, let’s not be India. Let’s protect this country as a market by CHOICE and not by force.” Untuk melakukannya, mari merambah internet dan meraih kemerdekaan! (Andy Sjarif, CEO SITTI, platform iklan teks kontekstual berbahasa Indonesia)

NO COMMENTS

Leave a Reply