Lazuli Sarae: Menyematkan Budaya Lokal pada Modernitas

Lazuli Sarae: Menyematkan Budaya Lokal pada Modernitas

0 6
Karya dari Lazuli Sarae (foto: doc.Lazuli Sarae)

Keluar sebagai runner up dalam Kontes Rencana Bisnis Kreatif pada PPKI (Pekan Produk Kreatif Indonesia) 2010 membuat Ivan dan Retta sepakat untuk mengeksekusi Lazuli Sarae menjadi sebuah bisnis nyata. Semangat, kerja keras, dan positif mindset mereka untuk selalu belajar dan berkembang, membuat clothing line ini kian mendapat perhatian.

Lazuli Sarae dijalankan Ivan Kurniawan bersama rekannya Maretta Astri Nirmanda. Sebagai director, Ivan fokus pada business and marketing development sedangkan Retta yang bertugas sebagai designer fokus pada product design and development. Pembelajaran secara akademik via bangku kuliah dan pembelajaran secara otodidak dari berbagai media dan pelaku industri fashion lainnya adalah fondasi yang berarti bagi mereka.

Menurut Retta, inspirasi karya Lazuli Sarae didapat dari berbagai hal, terutama alam dan manusia. “Dengan banyak keluar dan berinteraksi dengan sekitar biasanya saat itulah inspirasi muncul. Ciri khas kami adalah pembuatan batik di atas media denim dengan menggunakan teknik batik tradisional Indonesia,” ujanya.

Meski baru berjalan selama enam bulan, tidak sedikit penghargaan sudah diraih. Lazuli Sarae berhasil menjadi nominator dalam Inacraft Award 2011 pada bulan April sementara Ivan didaulat sebagai Juara ke-3 Honda Youth Startup Icon kota Bandung akhir Juni silam. Kedepannya Ivan dan Retta bertekad untuk mendapat beberapa prestasi lain seperti: Seal of Excellence, Indonesia Good Design Selection (IGDS), dan Inacraft Award 2012.

Bagi Ivan, industri fashion di Indonesia sangat maju dan memiliki peran besar dalam pembangunan perekonomian. “Para fashion entrepreneur sekarang ini sangat peduli pada pengembangan industri fashion untuk mewadahi para desainer dan entrepreneur muda agar dapat mengembangkan diri lebih lanjut melalui berbagai event. Hal inipun disambut dengan baik oleh kalangan penikmat fashion sebagai apresiator,” ungkapnya.

Agar lebih dikenal, Lazuli Sarae juga ikut ambil bagian dalam fashion show dan pameran. “Pengalaman paling berkesan adalah ketika melihat apresiasi masyarakat terhadap produk kami. Umpan balik para apresiator dan juga orang-orang yang berkunjung sewaktu kami pameran adalah pembelajaran terbaik dan sekaligus menjadi motivasi untuk terus menciptakan produk-produk yang bernilai tinggi,” ujar Ivan.

Sebagai sebuah bisnis, terus melahirkan karya-karya baru merupakan kewajiban. Begitu pula dengan brand ini. Dalam koleksi terbarunya, Lazuli Sarae mengedepankan rangkaian busana santai maupun formal yang bertemakan kehidupan urban. Koleksi ini mengusung nama Akulturapolis yang berarti kota yang penuh dengan percampuran budaya.

Walau untuk sementara produk Lazuli Sarae baru bisa didapat secara online melalui website lazulisarae.com, Ivan dan Retta mengaku telah menjalin konsinyasi dengan Smesco Gallery dan Pendopo – Rumah Batik dan Kerajinan Alam Sutera. Tentu saja, ini dilakukan untuk lebih memudahkan konsumen dalam menjangkau produk mereka.

Kepada mereka yang ingin berkecimpung di fashion industri, Ivan berpesan agar terus berkarya dan jangan merasa kecil diri. “Setiap orang pasti memiliki keunikan dan talenta yang dapat dikembangkan dan diwujudkan sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat,” jelasnya. Retta juga menambahkan, “peran kritikus fashion sangat baik terutama untuk para fashion artist yang berfungsi sebagai kurator dan pemicu inovasi-inovasi baru sehingga dapat membuat nilai tambah bagi dunia fashion di Indonesia agar dapat bersaing secara global”. (Koekoeh)

Lazuli Sarae

Jl. Pelestrian no.10 Bandung 40132, Email: info@lazulisarae.com, Twitter: @lazulisarae, Facebook: lazulisarae

NO COMMENTS

Leave a Reply