Elsa Christine: Mensyukuri Keleluasaan Peran dengan Berkarya

27/04/2011 9:51 am0 commentsViews: 5

Elsa Christine

Sosok yang satu ini memang patut ditiru. Pribadinya yang tidak mudah menyerah terlihat dari prestasinya yang terus bersinar. Dia adalah Elsa Christine. Wanita kelahiran 25 Maret 1971 ini aktif menjabat Head of Internal Communications, Public Affairs Division, PT. Bank Danamon Indonesia,Tbk.

Menurut wanita cantik berparas pribumi ini, senantiasa terbuka mencoba hal-hal baru dan membina relasi yang baik dengan siapa pun merupakan kiatnya. Sekian belas tahun berkarir dalam area pengembangan Sumber Daya Manusia, tahun 2008 ia nekat ‘banting stir’ terjun ke dunia komunikasi, yang ternyata begitu dinikmatinya hingga hari ini. Terbuka pada hal-hal baru, demikian Elsa, akan membuat kita mengasah diri untuk belajar, sehingga ide-ide kreatif akan lebih banyak mengalir.

Tiga tahun terakhir menggeluti komunikasi organisasi, Elsa menghasilkan sederet perubahan dalam unit yang dipimpinnya. Membidani majalah internal ‘Spirit’ bertiras 10,000 yang terbit setiap bulan hingga mengorganisir berbagai program komunikasi internal termasuk mendampingi direksi turun langsung ke berbagai daerah untuk bertemu langsung dengan karyawan dari berbagai tingkatan dan unit kerja. “Saya termasuk beruntung, karena sejak awal karir kerap memiliki ruang untuk melakukan banyak hal-hal baru. Mungkin karena saya termasuk tipe orang yang ‘daya membal’-nya lumayan tinggi, meskipun sempat terjatuh tapi tidak mau lama-lama berdiam di bawah, langsung ‘membal’ lagi dan menyalurkan energi melakukan banyak hal” ungkap ibu dari putri semata wayang Kezia Sabrina.

‘Bisa Award’, sebuah program penghargaan internal tingkat nasional yang diluncurkan tahun 2010 lalu. Inisiatif ini bertujuan mendorong internal branding dan internalisasi nilai-nilai organisasi, yang menurutnya harus dikomunikasikan secara konsisten dan intensif sehingga pada waktunya menjadi bagian dari perilaku dan cara pandang karyawan. Melalui inisiatif ini, akunya, banyak ide-ide baru muncul dan memberinya perspektif yang berbeda akan bagaimana seseorang mewujudkan passion-nya. Ia menemukan banyak karyawan dari kota-kota kecil dengan sumber daya terbatas justru doing the extra miles untuk melakukan inisiatif berdampak positif bagi lingkungannya, dan hal ini memicunya untuk berbuat lebih banyak lagi dari apa yang telah dilakukan saat ini.

Ketika ditanya bagaimana langkah karir selanjutnya, Elsa hanya ingin terus berkreasi dengan ide-ide kreatif dalam bidang yang ditekuninya, yang ia yakini dengan sendirinya akan menciptakan peluang lain.

Kesibukan membagi waktu antara pekerjaan dan rumah tangga ternyata tidak membuatnya kehabisan energi. Sejak beberapa tahun terakhir Elsa menjadi bagian dari tim pengajar di Talk-inc, sekolah public speaking yang dikelola Erwin Parengkuan, Becky Tumewu, dan Alexander Sriewijono. Di akhir pekan ia kerap mengajar sejumlah mata pelajaran yang diakuinya justru memberikan energi baru baginya. Bertemu dengan para siswa, bertukar ide dan menyaksikan proses perkembangan mereka merupakan ‘obat lelah’ bagi istri dari Christian Sinaga ini.

Menyikapi peran wanita dalam konteks Hari Kartini, perempuan yang mahir memasak ini menganggap sudah bukan waktunya lagi menghebohkan emansipasi dan persaingan gender. Justru menurutnya, “Kini saatnya saya dan para wanita yang sejak lahir telah menikmati kebebasan berkreasi tanpa dibatasi gender bertanya pada diri masing-masing, apa yang telah diperbuat bagi perbaikan lingkungan sekeliling–minimal pada keluarga, tim, rekan kerja dan lingkungan terdekat, serta menghasilkan karya-karya nyata.” pungkas alumni Universitas Padjadjaran jurusan Psikologi Industri & Organisasi ini kepada market+. (Dony)

April 2011
S M T W T F S
« Mar   May »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930