Dampak bencana Fukushima terhadap ekspor makanan Jepang

Dampak bencana Fukushima terhadap ekspor makanan Jepang

0 4
Kondisi komplek PLTN di Fukushima Daiichi-Jepang, pasca gempa sunami. (foto:istimewa)

Ledakan di reaktor nuklir pada kompleks nuklir Jepang Fukushima Daiichi, menunjukkan keprihatinan bukan hanya tentang efek radiasi pada manusia tetapi juga tentang suplai makanan yang  berasal dari Jepang. Beberapa negara seperti Cina, Hong Kong dan negara-negara Asia Tenggara telah melakukan tindakan pencegahan dengan memeriksa tingkat kontaminasi  makanan impor Jepang.

Sebuah ledakan nuklir akan melepaskan partikel radioaktif ke atmosfer dan ini akan mencemari permukaan  di mana partikel itu berada dan akan menimpa lahan pertanian tanaman buah dan sayuran, tanah penggembalaan dan sumber air.

Partikel radioaktif tersebut kemudian akan secara langsung maupun tidak langsung membawa pengaruh kepada manusia jika mereka mengkonsumsi makanan yang terbuat dari bahan-bahan seperti produk-produk susu dan daging dari hewan yang mengkonsumsi tanaman dan air yang telah terkontaminasi.

Sejumlah konsumen mengkhawatirkan tentang keamanan makanan Jepang setelah lepasnya partikel radioaktif. Mereka telah meminta penjelasan kepada retailer lokal mengenai keamanan bahan makanan pertanian maupun produk susu yang diimpor dari Jepang, karena pada umumnya produk tersebut dikirim melalui udara.

Apakah ancaman itu nyata?
Tingkat radiaktif di Fukushima yang saat ini dilaporkan telah menimbulkan kepanikan publik. Selain itu sebaran radiasi telah mencapai radius 20 km dari pusat reaktor nuklir.  Masyarakat di daerah ini telah sepenuhnya dievakuasi sehingga tidak mungkin lahan pertanian di daerah tersebut akan diperjualbelikan di pasar. Namun sangat penting untuk diingat bahwa situasi yang ada tidak boleh dibiarkan secara berlarut-larut, dan pemerintah setempat diharapkan dapat mengatasi bencana tersebut secara dini.

Laporan sebelumnya menunjukkan tingginya tingkat yodium radioaktif dan cesium di sekitar pembangkit nuklir tersebut. Yodium radioaktif memiliki paruh waktu yang lebih singkat sehingga efeknya pun menjadi terbatas. Namun paruh waktu Cesium adalah sekitar 30 tahun, sehingga efeknya dapat bertahan selama jangka waktu yang panjang.  Secara efektif , hal ini berarti bahwa seluruh area di sekitar radius 20 km tidak dapat digunakan untuk jangka waktu yang panjang.

Implikasi jangka panjang
Jepang harus sangat berhati-hati dalam mengelola dampak dari bencana ini, baik dalam hal menghasilkan energi yang aman di masa mendatang serta mengelola efek radiasi yang dilepaskan di lapisan atmosfer. Persepsi konsumen tentang keamanan sangat kuat dan meskipun makanan tersebut pada akhirnya dinyatakan aman untuk dikonsumsi, isu tentang adanya partikel radiasi akan mempengaruhi jatuhnya angka penjualan dalam jangka pendek. Merujuk pada besarnya ledakan nuklir yang terjadi, implikasi yang ditimbulkan terhadap makanan Jepang akan memiliki dampak jangka panjang. (*)

Artikel ini ditulis oleh Satish Lele, Vice President, Industrial Practice, Asia Pacific, Frost & Sullivan.

NO COMMENTS

Leave a Reply