Monas: Lambang Ibukota Jakarta

Monas: Lambang Ibukota Jakarta

0 30

Peresmiannya sendiri dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus 1961, oleh Presiden pertama Indonesia, Soekarno dan dibuka untuk umum sejak tanggal 12 Juli 1975.

Daerah taman hutan kota di sekitar Monas sempat beberapa kali berganti nama dari Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas sampai akhirnya menjadi Taman Monas. Tugu Monas yang menjulang setinggi 132 meter dan melambangkan lingga (alu atau anatan) yang penuh dimensi khas budaya bangsa Indonesia. Semua pelataran cawan melambangkan Yoni (lumbung). Alu dan lumbung merupakan alat rumah tanggaciri khas Indonesia. Keseluruhan monumen ini dilapisi oleh marmer. Di bagian puncak terdapat cawan yang di atasnya terdapat lidah api dari perunggu yang tingginya 17 meter dan diameter 6 meter dengan berat 14,5 ton. Lidah api ini dilapisi emas seberat 45 kg. Lidah api Monas terdiri atas 77 bagian yang disatukan. Pelataran puncak luasnya 11×11 m. Untuk mencapai pelataran puncak, pengunjung bisa menggunakan lift dengan lama perjalanan sekitar 3 menit. Di sekeliling lift terdapat tangga darurat. Dari pelataran puncak Monas, pengunjung bisa melihat gedung-gedung pencakar langit di kota Jakarta. Bahkan jika udara cerah, pengunjung dapat melihat Gunung Salak di Jawa Barat maupun Laut Jawa dengan Kepulauan Seribu. Di bagian bawah Monas terdapat sebuah ruangan yang luas yaitu Museum Nasional. Tingginya yaitu 8 meter. Museum ini menampilkan sejarah perjuangan Bangsa Indonesia. Luas dari museum ini adalah 80×80 m.

Pada keempat sisi museum terdapat 12 diorama (jendela peragaan) yang menampilkan sejarah Indonesia dari jaman kerajaan-kerajaan nenek moyang Bangsa Indonesia hingga G30S PKI. Untuk menyambangi Monas, ada banyak jenis transportasi yang bisa digunakan. Jika Anda pengguna kereta api, ada KRLJabodetabek jenis ekspres yang berhenti di Stasiun Gambir. Anda juga fasilitas transportasi Bus Trans Jakarta. Dan jika Anda menggunakan kendaraan pribadi, tersedia lapangan parkir khusus IRTI, atau Anda dapat memarkir kendaraan Anda di Stasiun Gambir.Untuk dapat masuk ke bangunan Monas, Anda dapat melalui pintu masuk di sekitar patung Pangeran Diponegoro. Lalu Anda akan melalui lorong bawah tanah untuk masuk ke Monas. Anda pun dapat melalui pintu masuk di pelataran Monas bagian utara. Jam buka Monas adalah jam 9.00 pagi hingga jam 16.00 sore. Pangeran Diponegoro yang sedang menunggang kudanya, terbuat dari perunggu seberat 8 ton itu dibuat oleh pemahat Italia, Prof. Coberlato sebagai sumbangan oleh Konsulat Jendral Honores, Dr Mario Bross di Indonesia. Melalui terowongan yang berada 3 m di bawah taman dan jalan silang Monas inilah, pintu masuk pengunjung ke tugu puncak Monas yang berpagar “Bambu Kuning”.

Monas dapat menjadi salah satu pilihan Anda untuk berwisata bersama keluarga dan tempat mendidik anak-anak untuk lebih mengenal sejarah Indonesia. Anda pun dapat menikmati udara segar dari rindangnya pepohonan di Monas. Dan jangan lupa untuk menjaga kebersihan Taman Monas agar tetap indah untuk dinikmati siapapun. Dalam rangka mendukung visit museum Jakarta 2010, market+ bekerjasama dengan Blue Bird Group, Starbucks, Emax, Kinokuniya, Lara Djonggrang, dan Indofood pada tanggal 10 April 2010 lalu melakukan kunjungan ke Museum Nasional dengan mengajak tiga puluh adik-adik dari Sekolah Kami, Yayasan Al-Fajri, Yayasan Kurnia, Tujuan lain adalah sebagai bentuk kepedulian Market+ pada pengenalan museumsejak dini pada anak-anak.

Pada pagi hari itu adik-adik dijamu untuk sarapan di gerai Starbucks Wisma BNI ’46, lalu dengan menggunakan Big Bird langsung menuju Monas. Dari pemandu Monumen Nasional adik-adik belajar mengenai sejarah bangsanya yang besar. Setelah kegiatan mengitari museum tersebut siang harinya diisi dengan kegiatan makan siang yang disediakan oleh resto Lara Djonggrang, sampai akhirnya mereka pulang dengan membawa bingkisan dari Blue Bird Group, Emax, Kinokuniya, dan Indofood.

NO COMMENTS

Leave a Reply