Budi Soehardi : Our Own Hero

Budi Soehardi : Our Own Hero

0 22

Apa yang telah dilakukannya sepertinya juga kurang memiliki ‘nilai jual’. Tapi, memang bukan itu yang Budi cari. Hanya berawal dari empati terhadap sesama manusia,
Budi dan istri memutuskan mendirikan sebuah panti untuk anak-anak
mantan pengungsi Timor Timur, Roslin namanya. Adirama Gemmy dan Dolly Lesmana beruntung berkesempatan mewawancarainya di Hotel Sheraton Bandara Soekarno-Hatta.

Pada 1999, suatu malam, Budi sekeluarga sedang makan bersama di rumah sambil menonton TV. Kebetulan berita yang disiarkan mengenai kondisi pengungsi Timor Timur. Mereka sekeluarga merasa kasihan melihat nasib anak-anak pengungsi tersebut. Mereka lalu sepakat membuat sesuatu yang beda. Liburan ke luar negeri yang telah direncanakan pun berganti dengan kunjungan ke sana. “Awalnya, kami ingin membuat sebuah rumah untuk anak-anak tersebut. Sambil menunggu waktu pembangunan rumah, kami terpaksa mengontrak rumah,” cerita pria yang juga merupakan Captain Pilot Singapore Airlines ini. Awalnya, mereka hanya menampung empat anak. Seiring waktu, jumlah penghuni Roslin mencapai 53 anak. “Sebenarnya, banyak yang ingin masuk. Tapi, kami tidak memiliki tempat yang cukup. Kami tidak ingin asal menerima lalu mengabaikan kebutuhan mereka. Jadi, kami melakukan ini semampu kami,” tambah Budi.

Mayoritas yang masuk ke Roslin adalah bayi. Kebijakan ini diambil karena mereka ingin menghindari anak-anak tersebut dari ‘polusi’ kehidupan di luar. “Mereka biasa hidup based on survival. Jadi, memang tidak mudah menangani mereka,” alas Budi. Apa yang telah dibangun Budi tak sia-sia. Dari waktu ke waktu, Roslin menunjukkan prestasinya. Dua tahun yang lalu, satu anak berhasil menjadi Sarjana Elektro dan satu anak lagi Sarjana Ekonomi. Sekarang, ada satu anak yang sedang menyelesaikan studinya di Kedokteran. Yang lebih membanggakan, panti tersebut bahkan sudah melakukan swasembada beras. Rencananya, Februari ini mereka juga akan mulai membuat kebun pisang dan membuka lapangan pekerjaan untuk penduduk sekitar.

Untuk Roslin, terang Budi, “Sumber dana hampir semua dari gaji saya. Ya, kadang-kadang, saudara dan teman-teman saya ikut membantu dengan mengirimkan dana seadanya.” Budi merasa dirinya berada pada posisi yang bisa meminta. “Semua ini saya yang mulai. Oleh karenanya, saya yang akan bertanggung jawab,” tambahnya. Ke depannya, Budi bermimpi membangun sebuah sekolah berkualitas. Dirinya tidak mau sekolah yang cuma fisik, tapi gurunya tidak memiliki kemampuan. Oleh karena itu, dia sedang mencoba menjual tanahnya untuk membangun sekolah di Kupang dan sekitarnya. Sekolah tersebut rencananya akan diusahakan gratis untuk pagi, namun siang dan sore dikelola secara komersial untuk subsidi.

Terkait Panti Roslin yang merupakan buah karya dan visinya tentang pentingnya pendidikan anak, Budi Soehardi diganjar sebagai salah satu CNN Heroes 2009. Ini merupakan ritual tahunan berskala internasional yang diselenggarakan media ternama tersebut untuk memberikan penghargaan terhadap orang-orang yang dianggap berkontribusi pada kemanusiaan. Selamat, Pak! Semoga akan semakin banyak orang Indonesia yang lebih peduli terhadap sesamanya setelah melihat apa yang telah Bapak lakukan.

Kunjungi situs Panti Roslin di
www.roslinorphanage.org

NO COMMENTS

Leave a Reply